Jumat, 07 November 2008

Mengatasi Kista Ovarium Dengan Ramuan Tumbuhan Obat

Ovarium adalah salah satu organ reproduksi pada wanita yang berfungsi menghasilkan ovum (sel telur). Tempat pematangan sel telur juga terjadi di bagian ovarium. Ovarium mensekresikan hormon – hormon penting seperti estrogen dan progesteron yang berperan dalam pengaturan siklus menstruasi. Wanita mempunyai sepasang ovarium berupa kelenjar berbentuk biji buah kenari yang terletak di kanan dan kiri uterus (rahim), di bawah tuba uterina dan terikat di sebelah belakang oleh ligamentum latum uteri. Sepasang ovarium tersebut menghasilkan 300.000 sel telur. Sel telur yang dikelilingi oleh lapisan sel epiteloid granulosa disebut folikel. Dari hasil penelitian diketahui ada dua hormon yang penting untuk fungsi penuh ovarium yaitu FSH (Follicle-Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone).

Suatu tumor jinak dapat mengenai indung telur, berupa kantong yang berisi cairan berwarna coklat yang biasa disebut dengan kista indung telur. Kista indung telur biasanya tidak bersifat kanker. Bila kista tersebut masih kecil, biasanya tidak menimbulkan gejala apa-apa. Namun diperlukan penelitian lebih lanjut untuk meyakinkan bahwa hal itu bukan kanker. Kista yang besar atau kista yang berjumlah banyak dapat menyebabkan perut wanita membuncit. Selain itu, hal itu juga dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada panggul, sakit pinggang dan rasa sakit saat berhubungan seksual.

Secara umum kista indung telur disebabkan oleh gangguan pembentukan hormon pada hipotalamus, hipofise dan indung telur itu sendiri. Kista indung telur dapat terbentuk kapan saja, antara masa pubertas sampai menopause, bahkan selama masa kehamilan.

Beberapa tipe umum kista indung telur adalah:

Kista folikel
Kista folikel timbul akibat dari folikel yang tidak berfungsi selama siklus menstruasi. Kista folikel berbentuk kecil sehingga biasanya tidak menimbulkan gejala apa-apa, kecuali jika pecah atau terpelintir, dapat menimbulkan gejala terasa kaku dan sakit hebat di daerah perut bagian bawah seperti serangan appendicitis (radang usus buntu) .

Kista lutein
Beberapa kista lutein sering terjadi saat kehamilan. Ada beberapa tipe kista lutein, diantaranya adalah:

a. Kista granulosa lutein
Kista granulosa lutein terjadi dalam korpus luteum indung telur yang fungsional. Kista ini bisa membesar, akibat dari penimbunan darah yang berlebihan saat fase perdarahan dari siklus menstruasi dan bukan akibat dari tumor. Kista ini timbul pada permulaan kehamilan dan diameternya bisa mencapai 5-6 cm yang menyebabkan rasa tidak enak di daerah panggul. Apabila pecah, terjadi pendarahan pada satu sisi rongga perut. Pada wanita yang tidak hamil, kista ini akan membuat menstruasi terlambat yang diikuti dengan perdarahan yang tidak teratur.

b. Kista theca lutein
Kista theca lutein berisi cairan bening dan berwarna seperti jerami. Timbulnya kista theca lutein berkaitan dengan tumor indung telur dan terapi hormon.

Kista polisistik indung telur
Kista ini menyebabkan menurunnya siklus menstruasi dan terjadi ketidaksuburan (infertilitas, yaitu ketidakmampuan memiliki anak setelah hubungan seksual dengan teratur walaupun tidak menggunakan alat kontrasepsi dalam jangka waktu paling tidak selama satu tahun). Penyakit polisistik indung telur juga merupakan penyebab utama dari abnormalitas endokrin.

Pemeriksaan kista indung telur dilakukan berdasarkan gejala dan tanda-tandanya. Pemeriksaan fisik dan beberapa jenis pemeriksaan laboratorium dapat membantu diagnosis dari beberapa tipe kista. Untuk mengkonfirmasi tipe kista indung telur, dokter akan melihat indung telur melalui ultrasound, laparoskopi atau melaui operasi.

Pengobatan secara medis

Kista folikel
Kista ini tidak perlu diobati karena akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 60 hari. Tetapi harus tetap dikonsultasikan pada dokter.

Kista lutein

  • Kista granulosa lutein yang sering terjadi pada wanita hamil akan sembuh secara perlahan-lahan pada masa kehamilan semester ketiga, sehingga jarang dilakukan operasi.
  • Kista teka lutein akan menghilang secara spontan jika faktor penyebabnya telah dihilangkan.

Kista polisistik indung telur
Untuk kista yang persisten, operasi harus dilakukan untuk mengangkat kista tersebut agar tidak menimbulkan gangguan dan rasa sakit. Bagi wanita yang menjalani operasi kista indung telur, sebaiknya tidak melakukan hubungan seksual dalam masa penyembuhan.

Pengobatan secara tradisional juga bisa dilakukan dengan ramuan tanaman berkhasiat obat. Berikut ini beberapa contoh resep/ramuan tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi kista ovarium/indung telur.

60 gram temu putih segar + 15 gram sambiloto kering atau 30 gram yang segar, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring, airnya diminum dua kali sehari, setiap kali minum 150 cc.

30 gram daun dewa segar + 50 gram temu mangga + 5 gram daging buah mahkota dewa kering, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk dua kali sehari, setiap kali minum 200 cc.

60 gram benalu yang hidup di pohon teh + 30 gram rumput mutiara atau rumput lidah ular kembang putih, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk dua kali sehari, setiap kali minum 200 cc.

Catatan :

  • Pilih salah satu resep, lakukan secara teratur, dan tetap konsultasi ke dokter.
  • Untuk perebusan gunakan periuk tanah, panci enamel atau panci kaca.
  • Rumput lidah ular kembang, Putih kering dapat dibeli di toko obat tionghoa dengan nama bai hua she she cao.


Penulis: Prof. H.M. Hembing Wijayakusuma
Waktu terbit: 7 April 2007
Sumber:
http://racik.wordpress.com/2007/04/07/mengatasi-kista-ovarium-dengan-ramuan-tumbuhan-obat/
Waktu akses: Rabu, 29 Oktober 2008


Serba-Serbi Tentang KISTA Pada PEREMPUAN

Kisah si Rina yang gelisah ketika diberi tahu oleh dokter A untuk operasi karena menderita kista indung telur. Setelah berkonsultasi dengan dokter B dan C semakin tambah gelisah dan bingung karena jawabannya pun bermacam-macam. Ada yang bilang perlu operasi tetapi ada yang bilang tidak perlu. Bingung?

Itulah kista, suatu organ yang membesar dan di dalamnya berisi cairan, seperti sebuah balon yang berisi air. Pada wanita, organ yang paling sering menjadi kista adalah indung telur. Tidak ada ketentuan apakah indung telur kiri atau kanan yang sering menjadi kista. Pada kebanyakan kasus kista justru tidak memerlukan operasi.

Peran Indung Telur
Setiap wanita mempunyai 2 indung telur kanan dan kiri. Ukuran normalnya sebesar biji kenari. Setiap indung telur berisi ribuan telur yang masih muda, sering disebut juga follicle. Setiap bulan follicle tersebut membesar dan satu di antaranya membesar sangat cepat dan menjadi telur yang matang. Pada peristiwa ovulasi, telur yang matang ini keluar dari indung telur dan bergerak ke rahim melalui saluran telur. Apabila sel telur yang matang ini tidak dibuahi, follicle akan mengecil dan menghilang dalam waktu 2-3 minggu dan akan terus berulang sesuai siklus haid pada seorang wanita. Jikalau ada gangguan proses siklus ini maka akan terjadi apa yang disebut kista.

Jenis-jenis Kista
Ada 4 macam kista indung telur. Kista fungsional, dermoid, cokelat (endometriosis) dan kista kelenjar (cystadenoma). Sampai saat ini masih belum diketahui bagaimana terjadinya kista. Biasanya tumbuh sangat pelan dan sering terjadi keganasan pada umur lebih 45 tahun. Dari keempat kista ini yang paling banyak dan justru sering mengecil sendiri seiring dengan membaiknya keseimbangan hormonal adalah kista fungsional.

Sebagian besar kista tanpa gejala dan diketahui secara kebetulan pada waktu periksa dokter. Menurut pengalaman, diketahuinya menderita kista indung telur biasanya sewaktu periksa check up atau sewaktu periksa karena sebab lain.

Selain itu juga dapat timbul gejala yang khas untuk kista indung telur dan sangat terkait dengan jenis kista indung telur.

Kista Fungsional
Sering tanpa gejala. Timbul gejala rasa sakit apabila disertai komplikasi seperti terpuntir atau pecah, tetapi komplikasi ini sangat jarang. Kista fungsional ini paling sering terjadi dan sangat jarang pada dua indung telur. Ia bisa mengecil sendiri dalam waktu 1-3 bulan.

Kista Dermoid
Kista ini terjadi karena jaringan dalam telur yang tidak dibuahi. Kemudian tumbuh menjadi beberapa jaringan seperti rambut, tulang dan lemak. Kista dapat terjadi pada dua indung telur dan biasanya tanpa gejala. Timbul gejala rasa sakit apabila kista terpuntir atau pecah.

Kista Cokelat (endometrioma)
Terjadi karena lapisan di dalam rahim (yang biasanya terkelupas sewaktu haid dan terlihat keluar dari kemaluan seperti darah), tidak terletak dalam rahim tetapi melekat pada dinding luar indung telur. Akibat peristiwa ini setiap kali haid, lapisan tersebut menghasilkan darah haid, yang akan terus menerus tertimbun dan menjadi kista. Kista ini bisa pada satu atau dua indung telur. Timbul gejala utama yaitu rasa sakit terutama sewaktu haid atau sexual intercourse.


Kistadenoma
Berasal dari pembungkus indung telur yang tumbuh menjadi kista. Kista jenis ini juga dapat menyerang indung telur kanan dan kiri. Gejala yang timbul biasanya akibat penekanan pada bagian tubuh sekitar seperti kandung kencing sehingga dapat menyebabkan semacam ''beser''.

Apakah Bahaya?
Salah satu bahaya yang ditakuti ialah apabila kista tersebut menjadi ganas. Sekalipun tidak semua kista mudah berubah menjadi ganas. Berdasar kajian teoritik, kista fungsional yang paling sering terjadi dan sangat jarang menjadi ganas. Sebaliknya kistadenoma yang jarang terjadi tetapi mudah menjadi ganas terutama pada usia di atas 45 tahun atau kurang dari 20 tahun.

Bahaya lain dari kista adalah apabila terpuntir. Kejadian ini akan menimbulkan rasa sakit yang sangat dan memerlukan tindakan darurat untuk mencegah kista jangan sampai pecah. Apabila kista tersebut sampai pecah bisa mengakibatkan hal-hal yang sangat berbahaya bagi penderita.


Penulis: DR. dr RM Widjajanto, SpOG
Sumber: http://www.rileks.com/lifestyle/?act=detail&artid=31102006116588
Waktu akses: Rabu, 29 Oktober 2008

Rabu, 05 November 2008

Pentingnya Tes Kesehatan Sebelum Naik Pelaminan

Sangat dianjurkan bagi pasangan yang akan menikah untuk melakukan pemeriksaan pra nikah. Serangkaian pemeriksaan dilakukan untuk menghindari beberapa penyakit dan kelainan, termasuk yang disebabkan oleh penyakit/kelainan bawaan yang bisa diturunkan.

Salah satu tujuan mulia sebuah pernikahan adalah menghasilkan keturunan. Selain kesiapan batin, diperlukan juga kesiapan fisik yang prima untuk menyambut datangnya keturunan. Calon suami dan istri ada baiknya memeriksakan kesiapan organ reproduksinya, agar proses mendapat keturunan nantinya menjadi lebih lancar.
Menurut dr. Nugroho Setiawan MS, spesialis kebidanan dan kandungan RS Fatmawati Jakarta, pemeriksaan pra nikah meliputi beberapa hal, diantaranya pemeriksaan darah rutin (HB, trombosit, analisa hemoglobin, leukosit), golongan darah dan Rhesus, kencing rutin (urinalisa), hepatitis terutama hepatitis B & C, dan gula darah.

Mengapa pemeriksaan pra nikah menjadi penting? Dengan pemeriksaan pra nikah, ada beberapa hal yang bisa dihindari.


1. Rhesus yang bersilangan
Kebanyakan bangsa Asia memiliki Rhesus positif, sedangkan bangsa Eropa rata-rata negatif. Terkadang, pasangan suami-isteri tidak tahu Rhesus darah pasangan masing-masing. Padahal, jika Rhesusnya bersilangan, bisa mempengaruhi kualitas keturunan.
Jika seorang perempuan (Reshus negatif) menikah dengan laki-laki (Rhesus positif), bayi pertamanya memiliki kemungkinan untuk ber-Rhesus negatif atau positif. Jika bayi mempunyai Rhesus negatif, tidak ada masalah. Tetapi, jika ia ber-Rhesus positif, masalah mungkin timbul pada kehamilan berikutnya. Bila ternyata kehamilan yang kedua merupakan janin yang ber-Rhesus positif, kehamilan ini berbahaya. Karena antibodi antirhesus dari ibu dapat memasuki sel darah merah janin. "Sebaliknya, tidak masalah jika si perempuan ber-Rhesus positif dan si pria negatif," papar Nugroho.

2. Penyakit Akibat Hubungan Seks
Pemeriksaan pra nikah juga bisa menghindari adanya penularan penyakit yang ditularkan lewat hubungan seksual, seperti sifilis, gonorrhea, HIV, dan penyakit hepatitis. Perempuan sebenarnya lebih rentan terkena penyakit kelamin daripada pria. Kenapa? "Karena alat kelamin perempuan berbentuk cekung yang seakan "menampung" virus. Sedangkan alat kelamin pria tidak bersifat "menampung" dan bisa langsung dibersihkan." Jika salah satu pasangan menderita penyakit kelamin, sebelum menikah harus diobati dulu sampai sembuh. Selain itu, jika misalnya seorang pria mengidap hepatitis B dan akan menikah, calon istrinya harus dibuat memiliki kekebalan terhadap penyakit hepatitis B tersebut. Caranya, dengan imunisasi hepatitis B. Jika sang pasangan belum sembuh dari penyakit kelamin dan akan tetap menikah, meskipun tidak menjamin 100 persen namun penggunaan kondom sangat dianjurkan.

3. Penyakit keturunan
Pemeriksaan pra nikah bisa mendeteksi kemungkinan penyakit yang bisa diturunkan secara genetik kepada anak, semisal albino. "Misalnya suami membawa sifat albino tetapi istrinya tidak, maka anak yang lahir tidak jadi albino. Sebaliknya, jika istrinya juga membawa sifat albino, maka anaknya pasti albino." Jika bertemu dengan pasangan yang sama-sama membawa sifat ini, pernikahan tidak harus dihentikan. "Kita tahu nantinya akan terjadi kemungkinan tersebut dan bisa disepakati, ingin punya anak atau tidak. Kalau masih ingin punya anak, ya risikonya nanti si anak jadi albino. Atau memilih tidak punya anak. Pernikahan tidak harus tertunda dengan halangan seperti ini. Yang penting adalah solusi atau pencegahannya," tutur Nugroho.

USG BAGI CALON IBU
Lebih jauh, menurut dr. I Putu G. Kayika, SpOG (K), bagi pasangan yang ingin segera punya anak, perlu menjalani konseling pra nikah. Dalam hal ini dilakukan pemeriksaan dengan tujuan agar kehamilan bisa dipersiapkan dan dijalankan dengan baik. Tak hanya mengenai riwayat kesehatan, dalam konseling ini kedua pasangan sebaiknya jujur menceritakan kondisi sosialnya. Antara lain status ekonomi (bekerja atau tidak bekerja) dan suasana di lingkungan keluarga. Termasuk perilaku-perilaku yang tidak mendukung kehamilan, semisal merokok, minuman beralkohol, dan memakai obat-obatan psikotoprika. Selain itu, perlu juga dievaluasi risiko yang bersifat individual yang mungkin timbul terhadap kehamilan. Antara lain usia (masih reproduktif atau tidak), kondisi nutrisi, aktivitas fisik, level pendidikan, level stres, dan bagaimana hubungan dengan pasangan. Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui organ reproduksi juga diperlukan. Antara lain, pap smear (jika seorang perempuan aktif secara seksual), rahim, dan status kekebalan terhadap penyakit (rubella, toksoplasma). Ada juga pemeriksaan sel telur. Namun menurut dosen Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI ini, pemeriksaan ini belum diperlukan sebelum pasangan yang bersangkutan dianggap infertil (sulit punya anak). Pemeriksaan dengan USG (Ultra Sonografi) bisa melihat apakah seorang perempuan menderita kista, mioma, tumor, atau keputihan. Jika ada kelainan atau infeksi harus dibersihkan dulu karena bisa menganggu proses kehamilan.


TES SPERMA, PERLUKAH?

Untuk pria, ada satu lagi pemeriksaan kesehatan pra nikah yang bisa dilakukan, yaitu tes sperma atau sperma analisa (spermiogram). Menurut dr. Nugroho, tes sperma ini dikenakan bagi orang yang ingin punya anak. Pemeriksaan sperma sebaiknya dilakukan di klinik kesuburan agar hasilnya bisa dipercaya, minimal terstandarisasi. Karena jika tidak di klinik khusus kesuburan, hasil bisa sangat bervariatif dan bukan tidak mungkin malah bisa merugikan pasien. Namun, Nugroho menegaskan, pemeriksaan sperma ini bukan termasuk standar pemeriksaan rutin. Dokter spesialis kebidanan melayani tes sperma jika ada permintaan. "Kalau orang yang akan menikah harus periksa sperma dan ternyata spermanya sedikit tidak normal, apa yang terjadi? Akan menjadi beban psikis. Padahal, untuk bisa hamil tidak harus fix spermanya normal. Karena untuk bisa hamil kan berpasangan. Bisa saja, kualitas sprema sedikit tidak normal tetapi istri lebih subur, bisa hamil. Begitu juga sebaliknya," ungkap Nugroho. Untuk penanganan sperma yang tidak normal harus dengan pemeriksaan dokter agar diketahui penyebabnya, antara lain:

  • Kebiasaan yang salah, seperti berendam dalam air panas, memakai celana rangkap, dan ketat.
  • Pekerjaan, semisal koki atau teknisi yang sering bekerja di ruang yang panas.
  • Penyakit, yaitu penyakit kelamin, infeksi, penyakit kulit di kantung strotum sehingga kantung itu terlalu tebal.
  • Bawaan. Jadi, pertumbuhan genetalia seorang pria tidak sempurna. Pria yang benar, memiliki kantong buah pelir yang panjang dan ada beberapa pria yang memiliki kantong buah pelir terlalu pendek. Hal ini karena saat pertumbuhan hormonnya kurang sehingga kurang ‘turun'.
  • Kelainan lain seperti kromosom.
Bagaimana pengobatannya? Setelah dicari sebabnya baru diobati. Jika tidak segera diobati, kualitasnya akan makin turun. Namun, ada juga yang tidak bisa diobati, semisal untuk yang berkantong buah pelir pendek.

TIPS

Bagi pasangan yang ingin punya anak, dr. Kayika menyarankan beberapa hal sebagai berikut.
  • Kehamilan sebaiknya direncanakan dan dipersiapkan dengan baik. Persiapan tersebut meliputi mental, fisik, dan sosial.
  • Tiga bulan sebelumnya tubuh calon ibu harus "dibersihkan" dari polutan dan logam berat seperti rokok, alkohol, dan obat-obatan psikotropika. Konsumsi makanan yang bernutrisi dan banyak mengandung asam folat yang terdapat dalam buah-buahan dan sayuran, vitamin, dan susu.
  • Jika ditemukan kelainan harus diatasi dulu sebelum hamil, bukan setelah dinyatakan hamil.
  • Hindari obat-obatan pada masa sebelum hamil. Sebisa mungkin hidup sehat bebas obat. Untuk penderita penyakit tertentu seperti asma, sebaiknya konsultasikan obat yang dikonsumsi pada dokter, apakah mengganggu proses kehamilan atau tidak.

Penulis:Triwik Kurniasari
Waktu terbit:
Jum'at, 8 Februari 2008
Sumber:
http://www.tabloidnova.com/article.php?name=/pentingnya-tes-kesehatan-sebelum-naik-pelaminan&channel=keluarga%2Fpasangan
Waktu Waktu akses: Senin, 27 Oktober 2008

Tempe Hindari Keluhan Saat Menopause

Setiap perempuan pasti akan mengalami menopause. Namun jangan khawatir, karena Anda tetap bisa tampil sehat dan cantik setelah menopause. Salah satunya adalah dengan rajin mengonsumsi tempe.

Menopause merupakan suatu proses penuaan alami dalam kehidupan seorang perempuan. Hal ini disebabkan oleh proses penuaan pada ovarium yang merupakan proses alami, maupun proses 'buatan' seperti operasi pengangkatan indung telur yang umumnya terjadi pada wanita berusia 46 - 52 tahun.

Pada masa sebelum atau sesudah penghentian menstruasi tersebut terdapat suatu interval yang disebut perimenopause, dimana terjadi perubahan hormonal yang mengakibatkan siklus haid menjadi tak teratur dan mulai muncul tanda-tanda kekurangan hormon wanita (estrogen).

Meski menopause adalah hal yang alami, menurut dr. Med. Ali Baziad, SPOG-KFER, "penderitaan" sebelum dan setelah menopause-lah yang tidak alami. "Selama ini ada anggapan di masyarakat bahwa keluhan menopause merupakan suatu hal yang alami dan pasti terjadi pada setiap perempuan. Akibatnya, mereka kurang peduli dan merasa tak perlu terapi. Padahal sebetulnya keluhan menopause bisa diatasi, lho," tuturnya.

Keluhan yang biasanya muncul meliputi keluhan jangka pendek dan jangka panjang. Keluhan jangka pendek antara lain badan terasa panas (hot flushes) dan berkeringat, jantung berdebar-debar, perasaan takut dan gelisah, libido menurun, kulit keriput, kadar kolesterol meningkat, kegemukan serta sakit saat berhubungan seks. Sedangkan keluhan jangka panjang meliputi osteoporosis atau pengeroposan tulang, penyakit jantung koroner, pikun dan stroke.


Kok bisa? "Hal ini terjadi karena pada saat menopause, kadar hormon estrogen dalam tubuh seorang perempuan mengalami fluktuasi, sehingga menyebabkan keluhan jangka pendek. Kadar estrogen tersebut nantinya akan mengalami penurunan sampai mencapai titik terendah yang akan meningkatkan risiko kardiovaskular (jantung) dan osteoporosis," jelas Baziad.


TERAPI SULIH HORMON

Namun, tak perlu khawatir, karena gejala-gejala tersebut dapat dicegah dengan melakukan diet, olahraga, serta pemberian suplemen, semisal kalsium. Selain melalui pencegahan, menopause juga dapat ditangani dengan pengobatan. Salah satunya adalah dengan menggunakan terapi sulih hormon (TSH).

Terapi ini merupakan salah satu cara untuk memulihkan kadar hormon yang menurun pada menopause, yaitu dengan memberikan obat-obat yang mengandung satu atau lebih jenis hormon (estrogen atau kombinasi estrogen dan progesteron). Namun, terapi ini kurang populer di masyarakat negara-negara berkembang, karena ketakutan akan efek samping yang mungkin terjadi pada penggunaan jangka panjang, selain harga yang relatif mahal.


Adanya ketidakpuasan dan ketakutan terhadap TSH ini melatarbelakangi pengembangan pendekatan alternatif penanganan menopause, yaitu dengan pemberdayaan gaya hidup sehat dan natural, antara lain berupa diet fitoestrogen.


"Fitoestrogen merupakan bahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang mempunyai struktur kimia dan aktivitas biologis yang menyerupai hormon estrogen dalam tubuh," jelas Baziad. Salah satu jenis fitoestrogen yang banyak diteliti pengunaannya adalah isoflavon, yaitu fitoestrogen yang berasal dari protein soy (kedelai) dan memiliki efek menyerupai estrogen alami, sehingga dapat menurunkan risiko penyakit pada masa menopause. Karena berasal dari alam, isoflavon relatif sangat aman.

Menurut Baziad, isoflavon mempunyai keuntungan, antara lain tidak menyebabkan kanker payudara, melindungi jantung dari penyakit jantung koroner (PJK), mencegah osteoporosis dan hot-flushes, tidak menurunkan daya ingat, sebagai antioksidan, mengencangkan payudara dan tetap menstabilkan fungsi ginjal. "Isoflavon tidak menyebabkan kanker payudara ataupun kanker rahim, malah sebaliknya memberikan efek protektif terhadap kedua organ tersebut." Selain itu, isoflavon kedelai juga memperbaiki fungsi berpikir yang mencegah pikun.

Berbeda dengan TSH yang berasal dari hormon si perempuan itu sendiri dan diberikan sesudah mengalami menopause, isoflavon bisa digunakan sebelum seorang perempuan mengalami menopause.


SEHAT DENGAN TEMPE


Dibanding dengan penggunaan TSH yang mahal karena harus diminum setiap hari, isoflavon relatif lebih murah, mudah didapat dan tidak mempunyai efek samping. Anda dapat mendapatkan sumber isoflavon alami pada tumbuh-tumbuhan misalnya kacang merah, kecambah atau kedelai. Kacang kedelai dapat memperbaiki lipoprotein dalam darah dan menurunkan kadar kolesterol jahat, karena tidak mengandung kolesterol.


Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi protein kedelai mempunyai efek menurunkan kolesterol. Salah satu contoh makanan yang gampang ditemui sekaligus mengandung isoflavon tinggi adalah tempe. Tentu ada syaratnya. "Kalau pingin mendapat manfaat isoflavon dari tempe, sebaiknya tempe tersebut diolah dengan cara direbus atau dikukus. Kalau digoreng, manfaatnya akan berkurang, karena minyak yang digunakan untuk menggoreng dapat menambah kadar kolesterol dalam darah," ujar Baziad. Ya, Anda harus pintar-pintar mengolah produk kedelai ini agar khasiatnya terasa. Anda juga bisa membuat olahan sayur dari tempe atau dibacem.


Bagaimana dengan susu kedelai? "Kadar isoflavon dalam susu kedelai malah rendah. Selain itu, kadar kolesterolnya pun telah tinggi, sehingga efek positifnya menurun," tambahnya.

Untuk isoflavon alami ini tidak ada patokan berapa gram yang harus dikonsumsi setiap harinya. Juga bisa dikonsumsi kapan saja. Efek samping fitoestrogen pun hingga saat ini belum ditemukan.

Bila Anda tak punya banyak waktu untuk mengolah tempe, Anda bisa menggunakan cara yang lebih praktis, yaitu dengan mengonsumsi kapsul isoflavon yang kini telah dijual di pasaran. Kapsul isoflavon mengandung 50 mg isoflavon. Dari hasil uji coba, 1 cangkir kedelai bermutu bagus setara dengan 25 mg kapsul isoflavon.


Bagaimana dengan efek samping fitoestrogen dalam bentuk kapsul? "Hingga saat ini belum ada pasien yang melaporkan dan belum ada keluhan apa-apa. Jadi, terserah pasien, mau pilih yang alami atau yang praktis," tutur Baziad. Jadi, untuk tampil cantik dan sehat di masa menopause ternyata tidak sulit, bukan? Tak ada salahnya mulai sekarang Anda memperbanyak konsumsi tempe.

Penulis:Triwik Kurniasari
Waktu terbit: Kamis, 2 Oktober 2008
Sumber:
http://www.tabloidnova.com/article.php?name=/tempe-hindari-keluhan-saat-menopause&channel=kesehatan%2Fwanita
Waktu akses: Senin, 27 Oktober 2008